Mau Jadi Investor Saham Jangan Modal Nekat!

By | Januari 24, 2021

Sbobet Pasti Bayar — Investasi merupakan salah satu cara untuk menyimpan uang dan mendapatkan keuntungan. Namun dalam berinvestasi dibutuhkan pengetahuan dan analisis yang mendalam.

Apalagi berinvestasi di saham alias pasar modal. Jangan hanya karena artis atau influencer idola lalu langsung membeli saham dengan modal nekat seperti ngutang bahkan sampai ke pinjaman online.

Sebenarnya apa saja sih yang harus diperhatikan sebelum berinvestasi di pasar saham? Berikut berita selengkapnya:

Perencana Keuangan Aidil Akbar mengungkapkan memang ada orang yang nekat menjadi investor saham dengan menggunakan utang.

“Ada banyak kemarin seperti permohonan pinjam uang Rp 100 juta untuk main saham, lalu Rp 170 juta pinjam di pinjol untuk beli 500 lot saham dan ada yang nekat jual mobilnya untuk beli saham,” kata Aidil, pada Sabtu (23/1/2021).

Dia mengungkapkan dalam berinvestasi di saham jangan sampai terjebak dengan pompom atau istilah buzzer di pasar saham agar orang lain tergerak membeli. Aksi buzzer tersebut biasanya membuat orang ramai-ramai beli dan harganya terkerek naik.

“Padahal saham dari perusahaan yang dipromosikan belum tentu memberikan keuntungan, ada yang malah rugi setelah beli saham ini. Entah mereka belajar dari mana investasi saham pakai utang,” ujar dia.

Aidil mengungkapkan, dari kasus-kasus yang terjadi memang investasi di saham bukan untuk main-main dan bukan untuk investor pemula.

“Pelajari saham yang mau dibeli dengan baik dan benar. Kuasai analisis teknikal dan fundamental agar mendapatkan harga yang benar dan tepat,” jelas dia.

Kemudian jangan sekali-kali berinvestasi menggunakan utang. Karena investasi adalah uang yang tidak dipakai alias uang dingin.

Jadilah Investor Jangka Panjang

Menurut Aidil investor adalah orang yang membeli saham, kemudian disimpan untuk jangka panjang di atas 1 tahun.

” Investor adalah mereka yang menaruh uang untuk jangka panjang, harus di atas 3 tahun, di atas 5 tahun. Jadi dia mengakumulasi saham untuk jangka panjang, bukan untuk mencari keuntungan sesaat,” tutur Aidil.

Berbeda dengan investor, trader saham menurut Aidil jarang yang memperhatikan fundamental sebuah perusahaan terbuka untuk membeli sahamnya. Ia mengatakan, para trader cenderung lebih mengutamakan volatilitas saham.

“Kalau trading nggak terlalu memperhatikan fundamental, dia lebih fokus kepada teknikal. Dia lebih fokus ini saham akan naik ke berapa, sekarang harganya berapa, dikerek berapa lama, dia akan melihat moving average-nya bagaimana. Dia akan melihat grafiknya seperti apa, ketebalan transaksinya atau permintaannya seberapa banyak. Itu adalah rumus-rumus teknikal analisis, karena sistemnya hit n run,” ujarnya.

Namun, banyak anak muda yang terjun bermain saham atau trading saham masih belum memahami teknik tersebut. Menurut Aidil, tingginya minat untuk bermain saham juga dipicu oleh rekomendasi atau pom-pom saham di media sosial.

“Nah sekarang fenomena anak muda. Milenial apa sih jeleknya dia? Nggak sabaran, ingin instan, cepat, narsistik jadi dia investasi ke saham ikut-ikutan, lalu kalau dia bisa foto, dia nampangin di media sosialnya dia, seolah-olah dia sudah jadi investor kawakan. Itu yang dimanfaatkan kemudian. Ketika dia masuk, dia main saham, bukan investasi. Karena kalau main saham dia main-main, berdagang,” urainya.