AS Ingin Bank Dunia Stop Meminjamkan Dana Ke China

By | Desember 14, 2019

Sbobet Pasti Bayar – Presiden AS Donald Trump menulis Tweet pada hari Jumat (6/12), “Mengapa Bank Dunia meminjamkan uang ke China? Mungkinkah ini?”

Tweet tersebut di posting sehari setelah Bank Dunia membahas kerangka kerja pinjaman 5 tahun baru untuk China. Menurut Steven Mnuchin, seorang Menteri Keuangan, AS keberatan dengan kerangka kerja tersebut. Namun, AS menolak keputusan ini sudah tidak mengagetkan baginya. Pasalnya, dalam kesepakatan yang dicapai tahun 2018, AS setuju untuk meningkatkan modal bank. Namun, sebagai imbalannya, Bank Dunia harus setuju untuk membebani peminjam yang lebih kaya suku bunga yang lebih tinggi. Meminjamkan kepada mereka lebih hemat dan mendorong lebih banyak dari mereka untuk berhenti memenuhi syarat untuk pinjaman bank atau dengan kata lain “lulus”.

Tetapi, proses tersebut tidak bisa cepat. Setelah suatu negara mencapai pendapatan nasional $6,975 per orang, sebuah “diskusi” bisa dimulai. Bank Dunia juga mempertimbangkan akses suatu negara ke pasar modal dan kualitas lembaganya.

Dari 17 negara yang “lulus” sejak tahun 1973, 5 kemudian kembali memennuhi syarat. Korea Selatan pergi tahun 1995, kemudian membutuhkan bantuan Bank Dunia dalam krisis keuangan Asia. Ini tetap memenuhi syarat untuk pinjaman lebih lanjut sampai tahun 2016. Di tahun tersebut, pendapatan per orang hampir 3 kali lipat dari pendapatan per orang di China saat ini.

Bagaimanapun, Bank Dunia akan meminjamkan kepada China dengan lebih selektif. Negara tersebut sekarang memiliki hutang sekitar $14,7 miliar. Selama 5 tahun ke depan, bisa dibayangkan bank akan meminjamkan sekitar $1 miliar atau $1,5 miliar setahun, 15-40 persen lebih rendah dari rata-rata pada tahun 2015-2019. Uang baru ini bertujuan untuk mendorong reformasi fiskal, perusahaan swasta, pengeluaran sosial, dan perbaikan lingkungan atau infrastruktur.

Jika Bank dapat membantu mendorong China menuju pertumbuhan yang lebih baik lagi, ini akan menguntungkan semua pihak termasuk saingan geopolitik China. Bank juga berharap untuk membiayai proyek percontohan yang dapat dipelajari dan dicontoh oleh negara-negara berkembang. Bank pun sudah membiayai pejabat-pejabat Ethiopia untuk mempelajari irigasi Tiongkok dan pejabat-pejabat India untuk mempelajari kereta api.

Baca Juga: Huawei Melalang Buana Ke Eropa, Amerika Tekor Berat!

Beberapa pihak telah menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan ke China menghasilkan profit sebesar kurang lebih $100 juta tahun lalu. Ini membebani China dengan tingkat bunga yang lebih tinggi daripada membayar pinjamannya sendiri. Uang itu yang kemudian bisa digunakan untuk membantu negara berkembang.

Secara teori, donor pemerintah dapat melakukan semua ini dengan dana yang lebih kecil dan membuatnya menjadi lebih sederhana. Mereka bisa saja menerbitkan obligasi pemerintah berdaya hasil rendah yang setara. Bisa juga membeli sekuritas pasar berkembang dengan imbal hasil yang lebih tinggi juga menyumbangkan keuntungan ke negara-negara berkembang. Tapi, bukan itu yang diusulkan oleh para kritikus pinjaman terhadap China.

Mengingat keuntungan yang diperoleh, Bank Dunia tentu saja ingin terus memberikan pinjaman kepada China. Sulit dijabarkan mengapa China terus meminjam dari Bank. Totalnya yang sebesar 0,01% dari PDB (jumlah yang sangat kecil) dan prosesnya bisa rumit. China mungkin menghargai keahlian Bank Dunia. Tapi, kenapa tidak membeli tanpa pinjaman saja?

Ada contoh dimana Tiongkok melakukan hal tersebut. Itu membawa saran tentang bagaimana cara untuk meningkatkan penilaian Bank tentang kemudahan melakukan bisnis. Tapi, mungkin pemerintah Tiongkok merasa pinjaman memberi bank lebih banyak “permainan”. Pemberi pinjaman memiliki kepentingan yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah. Lembaga seperti Bank menekankan pentingnya peminjam mengambil “kepemilikan” program reformasi. Tiongkok mungkin merasakan hal yang sama tentang pemberi pinjaman yang berkenan meminjam.